Ketenangan Sejati Hanya Hadir Saat Hati Didekatkan Kembali pada Allah
Salah satu titik balik dalam perjalananku memahami makna kembali adalah ketika aku berhenti mengartikan kembali sebagai melangkah ke belakang. Aku mulai percaya, bahwa kembali justru tentang menemukan arah, arah yang sempat hilang di tengah lalai dan lelah.
Titik balik itu datang saat aku memilih untuk naik gunung.
Di sana, aku benar-benar merasa kecil.
Sangat kecil.
Bukan hanya karena berada di ketinggian, tapi karena dikelilingi ciptaan Allah yang begitu luas.
Rasanya seperti diingatkan, bahwa selama ini aku sering merasa paling sibuk, paling kuat, dan paling mampu mengatur hidupku sendiri.
Padahal, aku hanya seorang hamba.
Perasaan yang hampir sama aku rasakan juga ketika aku mengikuti suatu majelis dan bertemu dengan relasi baru saat offline meeting. Mungkin dari luar aku terlihat lebih banyak diam dan tidak terlalu banyak berbagi. Tapi sebenarnya, aku sedang menyimpan banyak hal di kepalaku.
Aku mendengar bagaimana teman-teman bisa menceritakan perjalanan hidup mereka, bagaimana mereka mampu memaknai peristiwa-peristiwa sulit sebagai hikmah.
Dan jujur... di saat itu aku justru merasa bingung.
Aku bertanya dalam hati,
"Sebetulnya, hikmah yang Allah ingin sampaikan ke aku itu apa?"
Karena selama ini, setiap ada masalah, refleks pertanyaanku hampir selalu sama,
"Kenapa harus aku?"
Bukan,
"Apa pelajaran yang Allah ingin aku pahami dari semua ini?"
Sampai akhirnya aku membaca kembali Surah Al-Fajr, khususnya ayat 30.
In the end, we're just human who dream of...
Aku merasa, tujuan akhir itu adalah sesuatu yang hampir semua hamba Allah impikan. Tujuan akhir dari hidup, dari lelah, dari jatuh bangun, dari semua proses yang sering tidak kita mengerti...
Cuma satu.
Surga-Nya.
Tapi..
"Apakah hamba sudah merasa pantas untuk masuk ke dalamnya?"
Dari situ aku mulai menelaah ulang banyak hal. Aku mulai menyadari, bahwa sebenarnya Allah sudah menunjukkan banyak jalan keluar... bersamaan dengan datangnya kesulitan itu.
Bukan setelah semuanya selesai.
Karena kemudahan dari Allah yang ternyata sudah hadir, bahkan sebelum aku berhasil menyelesaikan masalah-masalah tersebut.
Aku hanya sering tidak peka.
Aku juga baru benar-benar memahami bahwa Allah tidak pernah jauh. Dan Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian menuju tujuan yang ia impikan.
Dalam Surah Al-Fajr ayat 28-30, Allah justru memanggil hamba-Nya untuk kembali kepada Tuhan-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai, lalu mengajak masuk ke dalam golongan hamba-Nya, dan masuk ke dalam surga-Nya.
Allah tidak menunggu kita menjadi hamba yang sempurna.
Allah hanya ingin kita kembali.
Selama kita masih bernapas, selama kita masih diberi keselamatan, pintu taubat itu selalu terbuka.
Aku belajar satu hal...
Allah bukan mencintai hamba-Nya karena ia tidak pernah merasa berdosa. Tapi Allah mencintai hamba yang berdosa, menyesal, dan berusaha kembali ke jalan yang Allah ridhai. Dan itu yang sangat aku rasakan ketika aku kembali pulang ke jalan Allah, bertemu lagi ke lingkungan yang aku rindukan di majelis kala itu.
Setelah sekian lama aku merasa seperti terdampar di gurun pasir, sampai lupa bagaimana caranya berpegangan.
Aku akhirnya mengerti bahwa setiap perjalanan kembali memang punya waktunya sendiri. Ada yang cepat tersadar dan ada yang harus tersesat dulu.
Tapi Allah tidak pernah menutup jalan pulang.
Allah hanya menunggu, sampai hati kita sendiri yang mau kembali.
Hidayah pun ternyata tidak selalu datang lewat peristiwa besar. Seringkali justru hadir lewat hal-hal kecil yang Allah sisipkan di sela kesibukan kita, sekadar agar kita menoleh lagi kepada-Nya.
Dan di situlah aku menemukan hikmahnya.
Bahwa kembali kepada Allah bukan berarti mundur.
Melainkan pulang... ke arah yang seharusnya sudah kita tuju sejak awal.



Komentar
Posting Komentar